Kasidah perempuan tidur;

Telanjang kau berbaring, mengingatkan pada
Bumi
Bumi yang licin dan kuda-kuda perawan,
Bumi licin tanpa kemerut, murni ujud,
tertutup ke haridepan: berbatasan perak.
Aku melihatmu telanjang, kupahami lalu kecemasan
hujan mencari benih-benih ranumbelia,
demam laut di wajah terbentang
tanpa menjumpai kilau permainan.
Melalui ranjang-ranjang darah mengelora
dan datang merengkuh besi-besinya mengilat,
tapi di mana berlindung akupun tak tahu,
untuk jiwaku cacat atau lembayung.
Perutmu adalah pertarungan mengakar,
bibir-bibirmu adalah fajar tanpa kontur.
Di bawah mawar-mawar hangat ranjangmu
Ajal merintih menunggu giliran.

FDL.

No comments:

Post a Comment