Biru

Seolah-olah tiada irama yang mampu bertahan untuk hidup, seirama, dan serentak dulu, akhirnya semua itu dipulangkan kembali kepada pemilik tunggalnya; yang tak pernah tidur.

Blues? Ah, aku rindukan blues. Aku rindukan apa-apa saja yang telah terbazirkan di perkarangan, di beranda hiburan. Ketika dunia tak dapat memberi makna, dan ketika masa jadi sangat berahi untuk kita lacurkan di bawah langit malam tanpa memikirkan kemunafikkan apa lagi yang sedang kita bahaskan. Namun sudah aku kembalikan semua itu kepada-Nya, demi cinta.

Cinta? Cinta apalagi yang terdaya kita dendangkan? Cinta apa lagi yang sedang asyik kita bicarakan? Cukup kah cinta yang sudah berada dalam persemayaman hati ini?

No comments:

Post a Comment