The man who sold the world

Ada satu tulisan, yang bergantungan di fikiran saat ini; Ada nafs, yang belum mengenal dirinya, takdirnya, dan arahnya. Namun diantara semua ketidak-tahuan itu, dia cuma bergantung pada kesadarannya.

Sebuah kesadaran dimana segala 'rasa' bergantung pada yang Esa semata-mata.

Ada sebuah buku di rak, seorang wanita, dan senyuman yang meluluhkan bangunan tiga tingkat ini seperti sebatang lilin yang mencair di setiap detik. Ada aku yang sedang beristirahat dari semua kegentingan perjalanan dengan kata-kata, ada tuhan yang sedang menemukan, untuk mengagumi-Nya.

Namun di setiap ciptaan-ciptaan-Nya yang unggul, dan indah di dunia ini. Yang masih bergelora di hati manusia-manusia yang tersisa, yang anggun, mempersonakan dan memperdayakan. Aku yakin, semakin dekat wanita itu melangkah, atau semakin jauh perjalanan ini membawa aku nantinya— sebenarnya yang akan semakin jelas itu adalah tujuan dan kebenaran penciptaan-Nya di fikiran ini; walau tetap bergantungan, dari satu nafs kepada sang penciptanya.

Maka redhai lah aku, siapa pun kamu. Kerana sebuah bangunan yang dipenuhi kata-kata, mahupun dunia yang dipenuhi pra-cipta, dan keindahan-keindahannya yang instan masih belum cukup untuk dimaknai selamanya. Bahkan untuk didiami, sediam-diamnya.

/11 April, 17.
Gramedia, Bandung.

No comments:

Post a Comment