Renyai —

Arkib di penjuru Malioeve membentang, adalah karya-karya siuman penunggang keraton empat puluh minit. Angar-Swarga.
Ada apa di Candi? Ada apa di Giwangan?
Sebahagian lukisan, dan ukir mengukir tak disudahi— Sepertiganya lagi, senja yang menuju hening.
Hujan renyai,
Di jerami padesterian.
Setengah mil adalah milik pementasan jubah transparen warni-warni dan bunyi-bunyi seruling.
Ada pemimpi, ada penari.
Dalam hiruk dan entah-berantah, batik-batik disembah-sembah.
Hari-hari berulang statis, umpama waktu yang pesimis. Kadang diramahi, terkadang jelas hampa. Antara tubruk, antara ekspreso.
Azan yang dikumandang, bagai lampu-lampu jalan yang kelam. Menyiram, tapi tak dipeduli. Mengambang, tapi tak juga rebah.
Sujud menyembah ketika hujan renyai,
Menyulam kepala.

/ April, 23.
Malioboro

No comments:

Post a Comment